Ready Marry Me? || Me Ready Marry? || Marry Me Ready?

Jangan pusing dengan judul di atas. Saya hanya mengubah posisinya saja 🙂 tanpa memperhatikan tata bahasanya. Judul di atas sebenarnya adalah pertanyaan yang diajukan hati saya ke otak saya. Berawal dari pertanyaan simpel, “Siapkah saya menikah?”, berujung pada pertanyaan tak berhingga dan (masih) belum terjawab. Hmmm, honestly karena jawabannya masih tergodok di dalam otak saya. Saya kasihan sama otak saya, kebeban mikirin hati saya terus. Andai hati saya bisa di-google, otak saya bakal lompat kegirangan seperti anak kecil dikasih gulali. Maunya hati memang sukar dinalar. Dari satu pertanyaan, “Siapkah saya menikah?”, beranak-pinak menjadi “Apakah dia siap menikahi saya?”, “Apakah pernikahan siap menyambut saya?”, dan apakah apakah yang lainnya yang membuat otak saya jadi apalah apalah banget. Dari banyak pertanyaan yang muncul ke permukaan, saya mengerucutkan menjadi satu ujung saja, ujung yang menjadi akar/induk/ibu/emak/enyak dari segala pertanyaan saya, yaitu “Siapkah saya berbagi dengan orang lain?”. Berbagi kehidupan, berbagi pikiran, berbagi makanan, berbagi rasa, berbagi raga, berbagi sandang, sampai yang maha penting, berbagi ranjang.

Manusia berawal dari  kesendirian yang sepi dan berakhir dengan kesepian yang sendiri. Jadi, kenapa harus berbagi? Pertanyaan spontan yang meringsek menyerbu otak. Kapankah ada jawabnya, karena pertanyaan tentang kehidupan seperti itu tidak akan terjawab kalu kita tidak ikhlas dan pasrah. Pertanyaan saya di awal sebenarnya bermuara pada kesimpulan bahwa ‘Saya Takut Kecewa’. Kecewa, bukan dikecewakan. Karena dikecewakan itu sifatnya relatif. Saya takut kecewa jika pasangan hidup saya tidak se-“ideal” yang saya mau, ditinjau dari jiwa dan raga. Keyakinan saya dari dulu tetap tidak berubah. tidak akan ada manusia yang bisa mengeri manusia yang lain dengan semengerti-mengertinya. Mustahil. Manusia hanya bisa mengerti satu manusia yaitu manusia itu sendiri. Yes. kita hanya mengerti kita. Hmmm, saya langsung terpikir, mungkin konsep ‘berbagi’ itu tidak sama dengan konsep ‘mengerti’. Berbagi bisa jadi berbagi kemengertian versi saya dengan pasangan saya, yang mana berbagi kemengertian tidaklah harus semuanya. Tiap individu, however punya privacy kecil dalam hidupnya.

Menikah (on my own version) adalah untuk lebih memperbaiki hubungan yang ada ke arah yang lebih baik. Include berbagi ketidakmengertian antar pasangan yang kerap menimbulkan perselisihan. Tujuannya bukan untuk dimengerti, namun untuk berbagi. Sekutu saya mengumpamakan saya dan dia sebagai ‘Garis Linier yang Tidak Pernah Bersinggungan’. Ha ha, soalnya kalau bersinggungan nanti tersinggung~

Pada akhirnya, hanya kita dan Tuhan yang benar-benar mengerti kita 🙂

PS: Saya menikah untuk menjadi ((( SUPER MOM ))) untuk Magenta-ku nanti \^^/~

Advertisements

Listening to Gajah by Tulus

Cara cerita yang tak biasa dari Tulus.

Iya Lus, aku setuju, yang terburuk kelak bisa jadi yang terbaik.

🙂

Listening to Gajah by Tulus

Preview it on Path

Motörhead

Rock n Roll even gonna set you free. Make the lame walk and the blind to see.

#EverythingLouderThanEverythingElse – with Yudi Esa

View on Path

Menyesap Lelap

Tik Tok!

23 Maret 2014 | 20:13

Entah kerasukan apa, atau mungkin kebanyakan makan kabel UTP, malam kemarin jadi teramat sangat fragile. Sendu syahdu hidupku~~. Selama jadi ‘pembantu negara tercinta’, aku serasa jadi pujangga. Apa-apa yang dirasakan bisa menjadi karya.

Well, gimana sih rasanya, elo disuruh lari, tapi jalan aja masih jatoh-jatohan???

Hey! “We have to learn to WALK before we can RUN”. Kenapa sedikit yang menyadari bahwa tante E. L. James itu memang benar adanya.

Sudahlah, ini karyaku yang sedang galau kemarin.

Aku dapat menggenggam angin saat ini.

Apa Artinya? Delusi…

Suatu kemungkinan yang aku angankan.

Aku hanya bisa merasakan angin yang masuk lewat jemariku.

Menyusup, menjalar ke seluruh tubuhku. Memberikan kehangatan yang merasuk jiwa.

Tetapi…. Tiada angin yang menghampiri malam ini.

Tiada angin yang dapat menerbangkan sayap-sayap patah. Sayap-sayap yang semakin tak berguna.

Angin, tolong tampar aku.

Biar aku sadar, aku harus menemukan akhir dari lorong gelap ini.

Terbangkan aku ke satu titik cahaya, yang dapat mengantarkan ku ke cahaya lainnya.

Demi satu tujuan, bahagia.

Let me live that fantasy~~

Yelyah yeaahh!

Thx to you, Yelyah. Bcoz ur ‘That’s What U Get’, I’m not hungry anymore. Good job. My OCD isn’t broken! Booyah. Love u tons ♥

♪Pain make your way to me, to me.
And I’ll always be just so inviting.
If I ever start to think straight,
This heart will start a riot in me,
Let’s start, start, hey! ♪

View on Path

Aku, Chuang Tzu, dan Lady Gaga

Pada Bab 1 berjudul Kekuatan Keyakinan, dalam buku Born to Believe karya Andrew Newbrerg dan Mark Waldman, saya menemukan puisi seorang bijak China bernama Chuang Tzu. Begini bunyinya:

Chuang Tzu bermimpi menjelma mejadi seekor kupu-kupu.
Betapa senangnya, melayang di atas angin sepoi-sepoi.
Tanpa harus berpikir siapa gerangan dirinya.
Saat Chuang Tzu terbangun, dia kebingungan.
“Apakah aku orang yang bermimpi menjadi seekor kupu-kupu?
Ataukah aku kupu-kupu, yang bermimpi bahwa aku seorang manusia?
Mungkin keseluruhan hidupku tak lain hanyalah sepenggal waktu dalam mimpi seekor kupu-kupu!”

Lalu suatu waktu saya sedang mendengarkan lagu Applause milik Lady Gaga. Saya terkesiap dengan beberapa bait dalam lagu tersebut. Begini liriknya:

Read More

Plagiarisme. My Effort is My Right!

Hidup kami, mati kau plagiator! – Ayah Pidi Baiq

Seorang Surayah Pidi Baiq saja begitu geramnya (geram atau garam ya?) dengan plagiator. Beliau seorang Imam Besar dan skateboarder. Bayangkan! Sungguh keren. Tapi jangan kau kira karena aku bukan Imam Besar dan bukan pula skateboarder lantas aku menjadi tidak geram dengan plagiator. Karena aku tidak akan pernah bisa jadi imam, tapi aku bisa besar dan aku bisa keren juga, karena pacarku yang bilang begitu. Dia sekutuku sepanjang masa.

Aku suka menulis sedari kecil. Nulis apapun yang kumau. Nulis diary waktu SMP, diary temen-temen. Sebenernya aku menghadapi plagiator tuh sudah dari dulu. Aku masih ingat, bagaimana tulisanku di-diary seorang kawan dijiplak oleh seseorang, seseorang yang sangat dekat. Tapi dulu aku gak terlalu ambil pusing, pikiranku dulu mah cuma mandi hujan. Sekarang juga begitu sih, ngapain ambil pusing, tapi aku mau bersuara saja. Aku punya hak untuk karyaku! Dan orang berkewajiban untuk mencantumkan namaku kalau dia memakai karyaku. Kata Surayah juga begitu, tulis nama penciptanya jika kau memakai karyanya agar penciptanya yang bertanggung jawab kalau ada apa-apa (lebih kurang mohon dimaafkan, intinya insya Allah begitu). Maaf, aku sulit menemukan tweet surayah itu, untuk ku capture, sudah ku stalk timeline-nya.

Read More